Tak Punya Banyak, Tapi Terus Berbagi, Kisah Inspiratif I Made Sudika
*Ratusan paket sembako telah disalurkan, dengan sasaran utama para lansia yang hidup sendiri serta anak-anak yang membutuhkan
Minggu, 05 April 2026
GIANYAR – Di balik rutinitas sebagai sopir pariwisata, tersimpan kisah ketulusan dari seorang warga Desa Ketewel yang menjadikan empati sebagai kekuatan utama dalam hidupnya. Sosok itu adalah I Made Sudika, yang akrab disapa Made Pande, pria sederhana yang konsisten berbagi kepada sesama di tengah keterbatasan.
Ditemui di kediamannya di Desa Ketewel, Gianyar, Pande menuturkan bahwa baginya membantu orang lain bukanlah soal memiliki banyak harta, melainkan tentang menghadirkan kepedulian dalam kehidupan sehari-hari.
Perjalanan sosialnya bermula saat pandemi COVID-19 melanda sekitar tahun 2021. Ketika sektor pariwisata lumpuh, ia kehilangan pekerjaan sebagai sopir. Namun di tengah kondisi sulit tersebut, justru muncul dorongan kuat dalam dirinya untuk membantu warga sekitar yang mengalami kesulitan.
“Awalnya hanya rasa kasihan melihat orang-orang di sekitar yang kesulitan,” ujarnya.
Di masa sulit itu, bantuan tak terduga datang dari seorang tamu asal Singapura, Isa Binti Sugri. Melalui komunikasi sederhana, Isa menanyakan kondisi Pande yang saat itu sedang tidak bekerja. Tanpa banyak pertimbangan, ia kemudian mengirimkan bantuan dana.
Dana awal yang diterima sebesar sekitar Rp 4,5 juta digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Namun bantuan tidak berhenti di situ. Dalam beberapa kesempatan berikutnya, Isa kembali mengirimkan dana dalam jumlah yang cukup besar.
Alih-alih digunakan sepenuhnya untuk pribadi, Pande memilih membagikan bantuan tersebut kepada masyarakat yang lebih membutuhkan. Ia membeli sembako dan menyalurkannya kepada warga di sejumlah wilayah seperti Ketewel, Lembeng, hingga Rangkan.
Ratusan paket sembako telah disalurkan, dengan sasaran utama para lansia yang hidup sendiri serta anak-anak yang membutuhkan. Bahkan, bantuan yang dihimpun juga telah menjangkau sejumlah wilayah lain di Bali.
Kebaikan Isa menjadi pemicu lahirnya gerakan sosial yang terus dijalankan hingga kini. Saat berkunjung ke Bali, Isa juga diajak langsung oleh Pande untuk melihat kondisi warga dan turut serta dalam kegiatan berbagi.
Pande mengaku, kegiatan sosial yang dijalankannya mendapat dukungan penuh dari istri dan anak-anaknya. Baginya, berbagi telah menjadi kebiasaan yang memberikan ketenangan batin.
“Kalau sudah terbiasa membantu, rasanya ada kebahagiaan tersendiri. Hati jadi lebih tenang,” katanya.
Meski hanya bekerja sebagai sopir wisata, Pande membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berbuat kebaikan. Ia bahkan merasakan hidupnya menjadi lebih dimudahkan sejak rutin berbagi kepada sesama.
“Jangan takut berbagi. Tidak akan membuat kita miskin. Justru rezeki terasa lebih lancar,” ujarnya.
Ia berharap, apa yang dilakukannya dapat menginspirasi masyarakat luas untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar, terutama para lansia yang hidup dalam keterbatasan.
“Berbagi itu bukan karena kita kaya, tapi karena kita terbiasa. Kalau semua orang punya rasa peduli, pasti banyak yang bisa terbantu,” tutupnya.
Kisah I Made Sudika menjadi bukti bahwa kebaikan dapat tumbuh dari siapa saja. Dari seorang sopir pariwisata di desa, lahir aksi nyata yang memberi harapan bagi banyak orang di sekitarnya.