Dewata6

-

Call:087762536261

infodewata6@gmail.com

Dari Gotong Royong ke Sumber Penghidupan, Temesi Waterfall Rayakan Dua Tahun Perjalanan

"Di awal kami bahkan belum memiliki dana dari APBDes. Modalnya hanya sumbangan sukarela, gali dana hingga terkumpul sekitar Rp 50 juta. Dengan gotong royong, kami membuka akses sederhana ke air terjun. Dari situlah semuanya dimulai"

Senin, 09 Februari 2026

Dewata6

GIANYAR, DEWATA6 - Berawal dari keterbatasan dana, Temesi Waterfall di Desa Temesi, Kecamatan Gianyar, kini menjelma menjadi destinasi wisata yang memberi manfaat nyata bagi warganya. Memasuki usia dua tahun, air terjun yang dibangun dari semangat gotong royong ini tak hanya menjadi kebanggaan desa, tetapi juga sumber penghidupan bagi banyak pihak.

Pada Minggu (8/2), Desa Temesi merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-2 Temesi Waterfall, sebuah destinasi wisata yang lahir dari gotong royong dan keyakinan masyarakat desa.

Perayaan digelar di kawasan Temesi Waterfall dan dirangkaikan dengan pelantikan pengurus Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), pengukuhan Forum Komunikasi (Forkom) Desa Temesi, serta penyerahan bagi hasil kepada 13 pihak yang selama ini terlibat langsung dalam pengelolaan air terjun tersebut. Selain itu, perangkat drumband juga diserahkan kepada anak-anak TK sebagai bentuk perhatian terhadap generasi muda.

Perbekel Temesi, Ketut Branayoga, menuturkan perjalanan Temesi Waterfall bukanlah kisah yang instan. Pada awalnya, banyak pihak yang pesimistis Desa Temesi mampu mengelola sebuah objek wisata. Namun dengan tekad dan kebersamaan, warga membuktikan sebaliknya.

“Di awal kami bahkan belum memiliki dana dari APBDes. Modalnya hanya sumbangan sukarela, gali dana hingga terkumpul sekitar Rp 50 juta. Dengan gotong royong, kami membuka akses sederhana ke air terjun. Dari situlah semuanya dimulai,” ujarnya.

Seiring waktu, Pemerintah Desa Temesi kemudian mengalokasikan anggaran melalui tiga tahap APBDes dengan total sekitar Rp 425 juta untuk membangun akses jalan, gedung, dan fasilitas dasar lainnya. Upaya itu kini mulai membuahkan hasil. Hingga memasuki HUT ke-2, operasional Temesi Waterfall telah menghasilkan sekitar Rp 70 juta, yang pada momentum ini diserahkan secara simbolis kepada 13 pihak, mulai dari tiga subak, empat pemilik lahan, Temesi–Pegesangan–Peteluan, BUMDes hingga dana cadangan desa.

“Supaya manfaat air terjun ini benar-benar dirasakan bersama. Setiap bulan 13 pihak itu mendapat persentase sesuai kesepakatan yang sudah kami susun,” jelas Branayoga.

Ke depan, Temesi Waterfall akan tetap menjadi pilot project desa dalam pengembangan pariwisata. Desa berkomitmen terus membiayai dan melengkapi kawasan ini dengan berbagai fasilitas penunjang, seperti aula, kuliner, serta atraksi wisata lainnya.

“Apa yang kita bangun hari ini bukan hanya untuk kita sekarang, tapi untuk generasi berikutnya. Tahun 2026 ini kami ingin meninggalkan warisan terbaik bagi anak cucu,” tegasnya.

Pelantikan pengurus Pokdarwis juga menjadi bagian penting dari perayaan ini. Branayoga menyebut, warga Desa Temesi memiliki sumber daya manusia yang mumpuni. Banyak di antaranya berprofesi sebagai praktisi pariwisata dan menguasai berbagai bahasa asing.

“Dari sisi SDM, Temesi tidak kalah dengan desa lain. Walau desa kami kecil, hanya tiga banjar, kami yakin bisa bersaing di tingkat internasional. Kalau semua stakeholder bersatu, bukan tidak mungkin suatu hari Temesi bisa mengharumkan nama Bali,” ujarnya.

Acara ini turut dihadiri perwakilan Dinas Pariwisata, Dinas PMD, Disperindag, Kesbangpol, BPBD, Satpol PP, serta unsur masyarakat Desa Temesi, menjadi bukti kuatnya dukungan lintas sektor terhadap tumbuhnya pariwisata berbasis desa di Gianyar timur.


Berita Terkini