Dewata6

-

Call:087762536261

infodewata6@gmail.com

Tradisi sebagai Ingatan Hidup: Praktik Artistik I Nyoman Dira di Antara Masa

Jumat, 02 Januari 2026

Dewata6

UBUD, DEWATA6 – Perjalanan artistik I Nyoman Dira adalah kisah tentang kesetiaan pada akar tradisi sekaligus keberanian membuka ruang eksplorasi baru. Perupa asal Banjar Silungan, Desa Lodtunduh, Ubud, Gianyar, Bali ini menjadikan seni lukis sebagai ruang perenungan, ekspresi batin, dan dialog berkelanjutan antara masa lalu dan masa kini.

Lukisan Pan Brayut lan Men Brayut versi ikan.

Berakar pada Kertas dan Tinta Cina

Karya-karya awal I Nyoman Dira berakar kuat pada tradisi lukisan klasik Bali, khususnya gaya Batuan, dengan medium kertas dan tinta cina. Kesederhanaan medium tersebut menjadi fondasi penting dalam membentuk sensitivitas visual, ketelitian detail, serta kepadatan narasi yang hingga kini melekat dalam karakter karyanya.

Seiring perkembangan zaman dan terbukanya beragam pilihan material seni rupa, Nyoman Dira mulai memperluas eksplorasi medium dengan menggunakan kanvas dan cat air Windsor sebagai medium utama. Pergeseran ini bukanlah bentuk meninggalkan tradisi, melainkan upaya menjembatani warisan visual leluhur dengan pendekatan artistik yang lebih kontemporer.

“Eksplorasi medium memberi ruang interpretasi yang lebih luas terhadap ide dan konsep,” ungkapnya, seraya menegaskan komitmennya untuk tetap menjaga ruh tradisi dalam setiap karya.

Bakat yang Tumbuh Sejak Usia Dini

Bakat seni I Nyoman Dira mulai tumbuh sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Terlahir di lingkungan keluarga yang dekat dengan dunia seni, inspirasi awalnya datang dari sang paman, seorang pengrajin bangunan tradisional Bali. Dari proses kreatif sederhana di sekitarnya, Dira mulai mengolah imajinasi sejak tahun 1987.

Tahun tersebut menjadi tonggak awal perjalanan seninya ketika ia meraih Juara I Lomba Melukis tingkat Kecamatan Ubud yang digelar di Museum Ratna Warta Ubud. Prestasi ini menjadi pemantik semangat untuk menekuni seni lukis secara lebih serius dan berkelanjutan.

Berguru pada Maestro, Gaya Batuan

Masih di tahun yang sama, I Nyoman Dira memperoleh kesempatan berguru secara langsung kepada almarhum Ketut Murtika, maestro lukisan Batuan, di Banjar Pekandelan, Desa Batuan, Sukawati, Gianyar. Proses belajar ini memberikan fondasi estetik yang kokoh—mulai dari penguasaan komposisi padat, detail naratif, hingga simbolisme spiritual yang khas gaya Batuan.

Pengaruh tersebut tetap terasa kuat dalam karya-karyanya hingga kini, meskipun dikemas melalui medium dan pendekatan visual yang lebih modern.

Awal Kemunculan di Ruang Pamer Publik

Langkah awal I Nyoman Dira di dunia pameran dimulai pada tahun 1987 melalui Group Exhibition di Museum Ratna Warta, Ubud. Momentum ini menjadi penanda penting kemunculannya di ruang seni publik, bertepatan dengan periode awal ia mendalami seni lukis secara lebih serius.

Pada tahun 1994, Dira kembali tampil dalam Group Exhibition di SMSR, disusul Group Exhibition OKA'S pada tahun 1996, yang semakin memperluas jejaring dan pengenalannya di kalangan komunitas seni rupa Bali.

Memasuki era 2000-an, Dira tetap menjaga kontinuitas berpameran. Pada tahun 2006, ia mengikuti Group Exhibition di Kantor Desa Bersama Sari Lotus, kemudian berlanjut pada tahun 2007 melalui Group Exhibition di Visesa Ubud bersama Sari Lotus.

Tahun 2010 menjadi fase yang cukup aktif, dengan keikutsertaannya dalam Group Exhibition di Gedung Wanita Banyuwangi, serta Group Exhibition di Tebesari, Ubud. Aktivitas berpameran ini berlanjut pada tahun 2011 melalui Group Exhibition di Banyuwangi, dan pada 2012 di Yogyakarta, menandai perluasan wilayah pameran ke luar Bali.

Memasuki Ruang Galeri dan Event Seni Kontemporer

Pada tahun 2014, I Nyoman Dira kembali berpameran dalam Group Exhibition OKAS Ubud, memperkuat keterikatannya dengan komunitas seni lokal yang telah membesarkannya.

Tahun 2018 menjadi salah satu periode penting dengan partisipasi dalam sejumlah pameran bergengsi, yakni Art Tomorrow Ubud, Monkey Forest Gallery Ubud, Bali, serta Layana Ubud. Keikutsertaan ini menempatkan karya-karyanya dalam konteks dialog seni kontemporer yang lebih luas, sekaligus mempertemukannya dengan audiens internasional.

Aktivitas Pameran Terkini

Memasuki dekade 2020-an, konsistensi berpameran tetap terjaga. Pada tahun 2023, Dira terlibat dalam Group Exhibition di Gedung Perjuangan Banyuwangi, serta tampil dalam Group Exhibition di Layana dan Group Exhibition di Biji World.

Pada tahun 2024, ia kembali menunjukkan eksistensinya melalui Group Exhibition di GWK Bali dan Group Exhibition di Jakarta, memperluas jangkauan apresiasi publik terhadap karyanya.

Puncaknya pada tahun 2025, I Nyoman Dira berpartisipasi dalam sejumlah pameran prestisius, antara lain Group Exhibition di ARMA Museum & Resort, Group Exhibition di Monkey Forest Gallery Ubud, Bali, serta pameran tematik bertajuk “Catuspata – Asta Muka”, sebuah Group Exhibition yang digelar di Balimoon Gallery & Resto, Ubud, Bali.

Merawat Tradisi, Membuka Ruang Baru

Bagi I Nyoman Dira, seni lukis bukan sekadar praktik estetika, melainkan ruang spiritual dan kultural.

Ia meyakini bahwa merawat tradisi tidak berarti membekukan bentuk, melainkan memberi napas baru agar tetap relevan dengan konteks zaman.

Melalui perpaduan kuat gaya Batuan dan eksplorasi medium modern, Dira menghadirkan karya-karya yang kaya detail, reflektif, dan terbuka terhadap beragam tafsir. Sebuah perjalanan artistik yang terus bergerak maju, tanpa pernah tercerabut dari akar budaya yang membesarkannya.

 


Berita Terkini