The Myth: Perayaan Seni, Perempuan, dan Imajinasi yang Bertahan
Kamis, 01 Januari 2026
GIANYAR, DEWATA6 - Sabtu, 27 Desember, pukul 17.00 WITA, di tengah cuaca ekstrem—hujan badai yang turun hampir seharian, banjir di berbagai titik, serta kemacetan panjang tidak menyurutkan semangat para seniman dan antusiasme pengunjung.
Malam itu justru menjadi momentum penting: pembukaan pameran seni Mahalakshmi sekaligus perayaan eksistensinya sebagai komunitas seniwati perempuan.
Rangkaian pembukaan diawali dengan Tari Pendet sebagai tarian penyambutan yang dibawakan oleh Ari dan Mawar, mahasiswi seni tari ISI Denpasar, menghadirkan nuansa sakral dan keramahan khas Bali. Atmosfer kemudian diperdalam melalui pembacaan puisi oleh Jules Kaelani, sebelum keseluruhan acara dipandu oleh Ariani, mahasiswi ISI yang juga turut berpartisipasi sebagai peserta pameran.

Mahalakshmi, yang lahir pada 4 November 2024, berangkat dari sepuluh seniman perempuan dan kini telah berkembang menjadi 80 anggota, dari lingkup lokal dan nasional hingga menjangkau ranah internasional. Pameran ini menandai edisi kelima dalam usia yang masih sangat muda, namun dengan pertumbuhan yang signifikan.

Dalam sambutannya, Aricadia, pendiri sekaligus konseptor Mahalakshmi, menyampaikan rasa hormat dan kerendahan hati. Ia menyebut dirinya sebagai filogenis—sosok yang selama ini memilih menyokong dari belakang layar. Atas permintaan para anggota, kali ini ia tampil sebagai satu-satunya seniman laki-laki di antara 43 seniwati yang berpameran. Jika pada setiap pameran ia berperan sebagai kurator, maka ini sebagai pemilih, sedang pendekatan kuratorial diserahkan kepada masing-masing peserta, membuka ruang dialog langsung antara karya dan pengunjung.

Tema pameran “The Myth”, dengan esensi tulisan oleh Ayu Remdani, menjadi benang merah yang mengikat seluruh karya. Salah satu penggalannya menyatakan:
“Dalam sunyi dan gerak kehidupan, mitos bernapas dalam ruang di antara kenyataan dan imajinasi. Ia adalah setiap cerita yang membentuk cara kita memahami dunia… keajaiban tidak selalu harus dimengerti, cukup untuk dirasakan.”

Gagasan ini beresonansi dengan pemikiran Ernst Cassirer, yang melihat manusia sebagai animal symbolicum—makhluk yang memahami dunia melalui simbol dan mitos. Ia juga selaras dengan pandangan Claude Lévi-Strauss, yang memandang mitos bukan sebagai cerita irasional, melainkan sebagai struktur makna yang hidup dalam kebudayaan.

Pameran ini dibuka secara resmi oleh Dra. Nazrina Suryani, MA., PhD, akademisi sosiologi gender dan feminisme Universitas Udayana. Kehadirannya menegaskan bobot intelektual pameran, sekaligus menandaskan bahwa perempuan perupa dan laki-laki dapat bergandengan tangan menghasilkan praktik seni yang lebih berimbang dan berkualitas. Turut hadir pula Dr. Jean Couteau, budayawan dan antropolog seni, yang memberikan dukungan atas penyelenggaraan pameran ini.

Sebagai bentuk penghormatan lintas waktu, pameran ini juga mengapresiasi dua perupa yang telah berpulang: I GAK Murniasih dan Moendy Astoety. Selebihnya, para peserta datang dari beragam latar profesi—dokter, pengacara, pengusaha, ibu rumah tangga, dosen seni ISI beserta mahasiswinya—serta melibatkan perupa mancanegara dari Jepang, Rusia, Azerbaijan, Kazakhstan, dan Brasil.

Sebagaimana dikemukakan Roland Barthes, mitos bukanlah kebohongan, melainkan cara tertentu dalam memberi makna. Dalam konteks pameran ini, The Myth menjadi ruang perjumpaan antara pengalaman personal, tubuh, ingatan, dan imajinasi kolektif—sebuah medan di mana seni tidak hanya dipandang, tetapi dihayati.