Lomba Mancing Jadi Simbol Kebersamaan, Tut Nata: Pilkel Tulikup Harus Damai dan Bermartabat Hingga Jadi Percontohan di Kabupaten Gianyar
Kita ingin Pilkel di Desa Tulikup menjadi sebuah ajang yang juga memberikan hiburan, menciptakan suasana damai dan santai. Saya sangat berharap Pilkel di Desa Tulikup bisa menjadi Pilkel percontohan di Kabupaten Gianyar"
Minggu, 16 Agustus 2026
GIANYAR – Suasana pagi di Jaba Pura Puseh Desa Adat Tulikup Kelod, Minggu (16/8/2026), tampak semarak. Sejak pukul 07.00 Wita, masyarakat berkumpul dalam suasana penuh keakraban mengikuti Lomba Mancing Berpasangan yang digelar dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Di tengah semangat peserta melempar kail dan menanti ikan menyambar umpan, kegiatan ini juga menjadi ruang mempererat persaudaraan warga Tulikup.
Kegiatan yang dikemas sederhana namun sarat makna tersebut bukan sekadar perlombaan untuk mendapatkan ikan terbanyak. Di tengah riuh canda, tawa dan semangat para peserta, Lomba Mancing Berpasangan menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi, membangun kekompakan, sekaligus merawat kebersamaan masyarakat Desa Tulikup. Semangat berpasangan dalam lomba pun menjadi simbol bahwa membangun desa membutuhkan kerja sama dan kebersamaan.
Momentum Lomba Mancing Berpasangan tersebut juga dimanfaatkan Dr. drh. I Ketut Gede Nata Kesuma, M.M.A., bakal calon Perbekel Desa Tulikup periode 2026–2034, untuk menyampaikan komitmennya membangun suasana demokrasi desa yang sejuk, damai dan harmonis.
Tut Nata, sapaan akrab I Ketut Gede Nata Kesuma, mengaku sangat mengapresiasi terselenggaranya lomba mancing berpasangan tersebut. Menurutnya, kegiatan masyarakat seperti ini memiliki arti penting karena mampu mempertemukan berbagai kalangan dalam suasana yang cair dan penuh kekeluargaan.
“Pertama, saya merasa sangat berbahagia pada pagi hari ini atas penyelenggaraan Lomba Mancing Berpasangan yang diselenggarakan dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan RI ke-81,” ujarnya.
Menurut Tut Nata, kegiatan semacam ini juga menjadi momentum yang baik untuk membangun komunikasi dan silaturahmi, terlebih Desa Tulikup tengah memasuki tahapan penting menuju Pemilihan Perbekel (Pilkel).
Ia berharap Pilkel Desa Tulikup nantinya tidak menjadi ruang untuk mempertajam perbedaan, melainkan menjadi momentum bagi seluruh masyarakat untuk menentukan pemimpin desa secara demokratis, santun dan bermartabat.
“Kita ingin Pilkel di Desa Tulikup menjadi sebuah ajang yang juga memberikan hiburan, menciptakan suasana damai dan santai. Saya sangat berharap Pilkel di Desa Tulikup bisa menjadi Pilkel percontohan di Kabupaten Gianyar,” tegasnya.
Harapan itu, kata Tut Nata, tidak berhenti pada saat proses pemilihan berlangsung. Setelah seluruh tahapan Pilkel selesai dan masyarakat telah menentukan pilihannya, seluruh kandidat diharapkan dapat kembali bergandengan tangan.
Baginya, kontestasi politik di tingkat desa hanyalah sebuah proses. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana seluruh elemen masyarakat kembali bersatu untuk membangun Tulikup.
“Setelah selesai ajang ini, kita para kandidat harus bersama-sama membangun Desa Tulikup menjadi desa yang lebih baik dari sebelumnya. Desa yang maju, harmonis, jaya dan sejahtera,” katanya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak menjadikan perbedaan pilihan sebagai alasan untuk terpecah. Sebaliknya, setiap warga memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam menentukan masa depan Desa Tulikup.
Tut Nata menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dalam Pilkel. Ia mengajak seluruh lapisan masyarakat, tanpa membedakan latar belakang, untuk menggunakan hak pilih sesuai hati nurani masing-masing.
“Saya berharap seluruh masyarakat berpartisipasi dalam Pilkel ini. Semua bentuk partisipasi masyarakat, dari seluruh golongan, harus diberikan ruang. Hadirlah di tempat pemungutan suara dan gunakan hak pilih sesuai dengan hati nurani masing-masing,” ungkapnya.
Semangat itulah yang menurutnya perlu terus dijaga sejak sekarang. Sebab, pembangunan desa tidak mungkin hanya bertumpu pada satu orang atau satu kelompok. Tulikup membutuhkan kebersamaan seluruh masyarakat untuk bergerak menuju masa depan yang lebih baik.
Lomba Mancing Berpasangan pun menjadi gambaran kecil dari semangat tersebut. Dua orang dalam satu pasangan harus saling bekerja sama, memahami peran masing-masing dan bersabar menunggu hasil. Filosofi sederhana itu, menurut Tut Nata, sesungguhnya juga relevan dalam membangun desa. Karena itu, ia berharap semangat kebersamaan yang terasa dalam lomba mancing tersebut dapat terus dibawa ke dalam seluruh tahapan Pilkel Tulikup.
“Kalau kita bersama-sama, saling mendukung dan menjaga keharmonisan, saya yakin Desa Tulikup akan menjadi lebih baik,” pungkasnya.
Di tengah semarak peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Lomba Mancing Berpasangan tersebut akhirnya tidak hanya menjadi ajang perlombaan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang bertemunya warga, kandidat, tokoh masyarakat dan berbagai elemen desa dalam suasana penuh keakraban.
Dari tepian kolam dan riuh tawa para peserta, terselip pesan sederhana: bahwa persaudaraan harus tetap menjadi jangkar, apa pun pilihan politik masyarakat nantinya.
Sebab setelah pesta demokrasi berakhir, semua akan kembali menjadi satu—masyarakat Desa Tulikup, yang memiliki rumah, harapan dan masa depan yang sama.
Berita Terkini
Terpopuler
Kisah Mengharukan Cok Agusnawa, Bukakan Pintu Rumah untuk Puluhan Anak Kurang Mampu Selama 20 Tahun
32 Tahun Mengabdi sebagai Guru, I Dewa Putu Gde Sadia Siap Mengabdi sebagai Calon Perbekel Tulikup
Anjasmara Asmaradana Prasetya Resmi Membuka Yoga Teacher Training Shantisena AGP Angkatan Baru 2026
Berita Terkait