Tut Nata, Pemegang Hak Cipta Karya Ilmiah tentang Sapi Bali, Siapkan Gagasan "Satu Rumah Satu Sapi" untuk Bangun Ekonomi Desa Tulikup
Sapi Bali adalah tabungan hidup bagi petani. Ketika membutuhkan biaya pendidikan anak, upacara adat, atau kebutuhan mendesak lainnya, sapi bisa dijual. Karena itu keberadaannya sangat penting bagi ekonomi keluarga petani
Sabtu, 25 Juli 2026
GIANYAR | Kepedulian terhadap pelestarian sapi Bali dan pemberdayaan ekonomi masyarakat menjadi salah satu komitmen yang terus dipegang oleh Dr. drh. I Ketut Gede Nata Kesuma, M.M.A., atau yang akrab disapa Tut Nata, putra Banjar Kaja Kauh, Desa Tulikup, Kecamatan Gianyar.
Selain memiliki pengalaman panjang di pemerintahan, Tut Nata juga dikenal sebagai akademisi yang memiliki perhatian besar terhadap dunia peternakan. Kepedulian tersebut dibuktikan melalui karya ilmiahnya berjudul "Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Optimalnya Pelaksanaan Program Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (UPSUS SIWAB) di Provinsi Bali."
Atas karya ilmiah tersebut, Tut Nata memperoleh Sertifikat Hak Cipta yang diserahkan langsung oleh Penjabat (Pj) Gubernur Bali saat itu, S.M. Mahendra Jaya, pada tahun 2024 sebagai bentuk apresiasi terhadap kontribusinya dalam pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus pelestarian sapi Bali.
Menurut Tut Nata, penghargaan tersebut bukan sekadar pengakuan akademik, tetapi menjadi kepuasan batin karena lahir dari kecintaannya terhadap dunia pertanian dan peternakan sejak kecil.
"Saya lahir dari keluarga petani. Sejak kecil saya sudah akrab dengan sapi Bali. Setelah menempuh pendidikan hingga meraih gelar doktor, saya merasa terpanggil untuk menuangkan gagasan dalam sebuah karya ilmiah yang manfaatnya bisa diterapkan langsung oleh para peternak. Bagi saya, penghargaan terbesar adalah ketika ilmu tersebut benar-benar bermanfaat bagi masyarakat," ujarnya.
Sapi Bali, Tabungan Hidup Petani
Tut Nata menjelaskan, sapi Bali merupakan plasma nutfah asli Indonesia yang memiliki banyak keunggulan dibandingkan sapi impor.
Menurutnya, sapi Bali sangat cocok dipelihara oleh peternak rakyat karena tidak membutuhkan modal besar maupun lahan yang luas.
"Sapi Bali adalah tabungan hidup bagi petani. Ketika membutuhkan biaya pendidikan anak, upacara adat, atau kebutuhan mendesak lainnya, sapi bisa dijual. Karena itu keberadaannya sangat penting bagi ekonomi keluarga petani," katanya.
Ia memaparkan bahwa sapi Bali memiliki tingkat kesuburan yang sangat tinggi, bahkan bisa mencapai sekitar 90 persen. Selain itu, tingkat kematiannya rendah, tahan terhadap berbagai penyakit, serta mampu beradaptasi dengan iklim tropis Bali.
"Sapi Bali itu luar biasa. Makan jerami pun hidup, kondisi kering pun mampu bertahan. Berbeda dengan sapi impor yang membutuhkan pakan khusus, biaya tinggi, dan perawatan yang lebih intensif," jelasnya.
Dengan nada penuh semangat, Tut Nata bahkan menyampaikan filosofi yang menurutnya menjadi keistimewaan sapi Bali.
"Keistimewaan sapi Bali adalah dipelihara dengan cara tidak istimewa, tetapi hasilnya tetap menjadi sapi yang istimewa. Kalau sapi lain harus dipelihara secara sangat khusus, sapi Bali justru tangguh dalam kondisi peternakan rakyat."
Selain memiliki kualitas daging yang baik dan banyak diminati pasar, daging sapi Bali juga menjadi salah satu komoditas yang banyak dikonsumsi di berbagai kota besar di Indonesia.
Regenerasi Petani Menjadi Tantangan
Di balik berbagai keunggulan tersebut, Tut Nata mengakui dunia pertanian dan peternakan kini menghadapi tantangan besar, yakni semakin berkurangnya minat generasi muda menjadi petani.
Menurutnya, hasil sektor pertanian sering kali dianggap kurang menjanjikan dibandingkan sektor jasa sehingga banyak anak petani memilih profesi lain.
"Ini menjadi tantangan kita bersama. Pengalaman saya selama bertahun-tahun di dunia pertanian harus bisa dimanfaatkan untuk membangun kembali semangat masyarakat agar tetap mencintai sektor pertanian dan peternakan," ungkapnya.
Gagas Program "Satu Rumah Satu Sapi"
Apabila dipercaya masyarakat memimpin Desa Tulikup, Tut Nata ingin menerapkan konsep pemberdayaan ekonomi berbasis peternakan melalui program "Satu Rumah Satu Sapi."
Konsep tersebut, menurutnya, tidak hanya mengandalkan dana pemerintah, tetapi melibatkan investor atau perusahaan sebagai mitra masyarakat.
Melalui pola kemitraan, perusahaan menyediakan sapi beserta pakan, sementara masyarakat cukup menyiapkan kandang dan memelihara ternak tersebut hingga siap dijual.
"Jangan hanya teori. Yang penting implementasinya. Perusahaan bisa menyediakan sapi atau babi berikut pakannya. Warga cukup memelihara. Setelah masa pemeliharaan selesai dan ternak dijual, hasilnya dibagi sesuai kesepakatan sehingga kedua belah pihak sama-sama memperoleh keuntungan," jelasnya.
Selain menghasilkan pendapatan tambahan, limbah ternak juga dapat diolah menjadi pupuk organik yang bermanfaat bagi sektor pertanian.
Ia berharap, ke depan setiap keluarga di Tulikup minimal memiliki satu hingga dua ekor sapi sebagai investasi jangka panjang.
Desa Harus Mampu Menciptakan Lapangan Kerja
Tut Nata menegaskan pembangunan desa tidak boleh hanya bergantung pada dana APBN maupun APBD. Menurutnya, desa harus memiliki berbagai inovasi ekonomi yang mampu menciptakan lapangan kerja baru.
Ia juga menilai Tulikup memiliki potensi besar karena selain dikenal sebagai sentra kerajinan bata merah, wilayah tersebut masih memiliki areal persawahan yang cukup luas sehingga sektor peternakan dapat berjalan berdampingan dengan usaha masyarakat lainnya.
"Kerajinan bata merah tetap harus dijaga karena itu identitas Tulikup. Tetapi kita juga harus membuka peluang usaha baru. Peternakan bisa berjalan berdampingan dengan pertanian maupun industri kerajinan. Desa harus mampu melahirkan inovasi ekonomi," ujarnya.
Baginya, ukuran keberhasilan pembangunan desa bukan sekadar banyaknya bantuan yang diterima masyarakat, melainkan semakin banyak warga yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain.
"Harapan saya, masyarakat tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi mampu menjadi pencipta lapangan kerja. Kalau ekonomi desa bergerak, kesejahteraan masyarakat juga akan meningkat," pungkas Tut Nata.
Berita Terkini
Terpopuler
Daun Yang Merekah Produksi IKJ Raih Juara Umum, SMA Negeri 4 Denpasar Catat Prestasi di JMFF 2026
Berita Terkait