Calon Perbekel Tulikup I Dewa Putu Gde Sadia Usung Gerakan Desa Bersih, Targetkan Penanganan Sampah Tuntas Dalam Satu Tahun
Kalau kita ingin hidup bersih, bukan orang lain yang menciptakan kebersihan itu, tetapi dimulai dari diri kita sendiri. Karena itu masyarakat harus terus diedukasi agar memiliki kesadaran menjaga lingkungan
Selasa, 21 Juli 2026
Gianyar – Persoalan sampah yang kini menjadi perhatian serius di Bali turut menjadi fokus utama Calon Perbekel Desa Tulikup, I Dewa Putu Gde Sadia atau yang akrab disapa Dewa Aji, yang sudah mendaptar pada tanggal 18/7/2026 bersama prejuru Banjar Tegal bersama tim ke kantor Desa Berbekal pengalaman panjang sebagai pendidik selama 32 tahun di SMKN 1 Gianyar, pernah menjabat Bendesa Adat Tulikup Kaler selama dua periode (2006–2016), serta kini dipercaya sebagai Pengawas LPD Desa Adat Tulikup Kaler dan Ketua Sabha Desa Adat Tulikup Kaler, Dewa Aji menawarkan gagasan penanganan sampah yang berorientasi pada perubahan perilaku masyarakat.
Menurutnya, persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan pemerintah desa. Kesadaran masyarakat menjadi kunci utama untuk menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman.
"Kalau kita ingin hidup bersih, bukan orang lain yang menciptakan kebersihan itu, tetapi dimulai dari diri kita sendiri. Karena itu masyarakat harus terus diedukasi agar memiliki kesadaran menjaga lingkungan," ujarnya.
Dewa Aji mengatakan, apabila mendapat amanah memimpin Desa Tulikup, ia akan menggencarkan gerakan gotong royong kebersihan secara rutin dengan melibatkan seluruh unsur masyarakat, terutama generasi muda, perangkat desa, desa adat, banjar, hingga berbagai organisasi kemasyarakatan.
Ia mengusulkan kegiatan bersih-bersih lingkungan dilakukan sedikitnya dua minggu sekali. Kegiatan tersebut tidak hanya berfokus pada pengangkutan sampah, tetapi juga membersihkan saluran air, got, dan gorong-gorong untuk mencegah banjir saat musim hujan.
Menurutnya, semangat kebersamaan harus terus dibangun agar masyarakat tidak merasa dipaksa, melainkan memiliki kesadaran bersama bahwa menjaga kebersihan adalah kebutuhan.
"Kebersihan harus menjadi budaya. Jangan sampai masyarakat merasa terpaksa, tetapi tumbuh dari kesadaran sendiri. Pada dasarnya semua orang ingin hidup bersih, tinggal bagaimana kita membangun kebersamaan itu," katanya.
Selain edukasi, Dewa Aji menilai sistem pemilahan sampah yang telah ada di Desa Tulikup perlu lebih diintensifkan. Ia berharap masyarakat mulai membiasakan memilah sampah sejak dari rumah sehingga volume sampah yang dibuang dapat berkurang dan lebih mudah dikelola.
"Program pemilahan sampah sebenarnya sudah ada. Tinggal bagaimana kita memperkuat pelaksanaannya agar benar-benar berjalan di masyarakat. Jangan sampai sampah terus menumpuk karena tidak dipilah sejak awal," jelasnya.
Ia juga memberikan perhatian terhadap petugas kebersihan yang setiap hari berada di garis depan menangani sampah rumah tangga. Menurutnya, mereka memiliki risiko kesehatan yang tinggi sehingga sudah sepatutnya memperoleh perhatian lebih, baik dari sisi kesejahteraan maupun fasilitas kerja.
"Petugas kebersihan bekerja langsung bersentuhan dengan sampah setiap hari. Mereka memiliki risiko yang besar terhadap penyakit. Karena itu kesejahteraan mereka harus menjadi perhatian pemerintah desa agar semangat kerja tetap tinggi dan pelayanan kepada masyarakat semakin baik," tegasnya.
Dewa Aji menyatakan peningkatan kesejahteraan petugas kebersihan akan disesuaikan dengan kemampuan keuangan desa. Namun ia memastikan komitmennya untuk memberikan penghargaan yang layak kepada mereka yang telah bekerja menjaga kebersihan lingkungan.
Mengenai target, Dewa Aji optimistis perubahan nyata dapat diwujudkan dalam waktu satu tahun apabila seluruh pemangku kepentingan bergerak bersama.
"Target saya, dalam satu tahun masyarakat sudah merasakan perubahan. Tulikup harus menjadi desa yang lebih bersih. Tetapi itu hanya bisa dicapai jika pemerintah desa, desa adat, perangkat desa, banjar, generasi muda, dan seluruh masyarakat bersinergi," ungkapnya.
Bagi Dewa Aji, seorang pemimpin tidak cukup hanya mengeluarkan kebijakan, tetapi juga harus menjadi teladan dalam menjaga kebersihan lingkungan.
"Pemimpin harus memberi contoh. Kalau pemimpinnya peduli terhadap kebersihan, masyarakat akan ikut bergerak. Saya ingin mengabdi dengan tulus demi kemajuan Desa Tulikup. Tidak ada kepentingan lain selain ingin meninggalkan warisan yang baik bagi masyarakat dan generasi berikutnya," pungkasnya.