Dewata6

-

Call:087762536261

infodewata6@gmail.com

Kisah Mengharukan Cok Agusnawa, Bukakan Pintu Rumah untuk Puluhan Anak Kurang Mampu Selama 20 Tahun

Selama lebih dari dua dekade, diperkirakan lebih dari 25 hingga 30 anak telah berhasil dibantu hingga mandiri. Bahkan jika dihitung sejak awal dirinya menjadi aparatur sipil negara, jumlahnya mencapai sekitar 60 orang.

Minggu, 12 Juli 2026

Dewata6

Gianyar  - persaingan Pemilihan Perbekel (Pilkel) Desa Peliatan 2026 memang mulai menghangat sejak Cokorda Gde Agusnawa, SH, MH, resmi mendaftarkan diri sebagai bakal calon Perbekel Desa Peliatan, Kecamatan Ubud. Namun, di balik rekam jejaknya sebagai mantan birokrat senior Pemerintah Kabupaten Gianyar, tersimpan kisah kemanusiaan yang selama ini nyaris tak banyak diketahui publik.

 

Selama lebih dari dua puluh tahun, Cok Agusnawa diam-diam membuka pintu rumahnya bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Bukan sekadar memberi bantuan sesaat, tetapi menjadikan rumahnya sebagai tempat tinggal, tempat belajar, sekaligus rumah kedua hingga mereka mampu berdiri di atas kaki sendiri.

 

Bagi Cokorda Gde Agusnawa, jabatan bukanlah ukuran keberhasilan hidup. Baginya, keberhasilan sesungguhnya adalah ketika seseorang mampu mengubah masa depan orang lain melalui pendidikan.

 

Prinsip itulah yang terus ia pegang sejak masih menjadi pegawai berpangkat golongan IIA di lingkungan Pemerintah Kabupaten Gianyar. Di tengah penghasilannya yang tidak besar saat itu, ia mulai menerima anak-anak dari keluarga kurang mampu, terutama dari daerah pegunungan seperti Desa Taro dan sejumlah wilayah terpencil di Gianyar.

 

Mereka datang bukan karena direkrut, melainkan karena orang tua mereka berharap anak-anaknya memperoleh kesempatan hidup yang lebih baik.

 

"Orang tua mereka datang menawarkan anaknya kepada saya karena sudah tidak sanggup membiayai sekolah maupun kehidupan sehari-hari. Saya hanya berpikir, kalau saya mampu membantu, mengapa tidak?" ungkapnya.

 

Sejak hari pertama tinggal di rumahnya, satu syarat yang selalu ia tekankan adalah pendidikan.

 

Anak-anak tersebut wajib menyelesaikan pendidikan minimal hingga SMA. Setelah lulus, sebagian besar kembali didorong melanjutkan pendidikan diploma maupun perguruan tinggi, terutama pada bidang pariwisata yang dinilai memiliki peluang kerja besar di Bali.

 

Seluruh kebutuhan mereka dipenuhi.

 

Mulai dari tempat tinggal, makan tiga kali sehari, seragam sekolah, biaya pendidikan, uang saku, hingga sepeda motor untuk menunjang aktivitas belajar dan bekerja setelah lulus.

 

Rumahnya pun selalu terbuka.

 

Tidak ada perlakuan sebagai pembantu rumah tangga. Mereka hanya diajarkan hidup mandiri, menjaga kebersihan, disiplin, sembahyang, dan saling menghormati layaknya keluarga sendiri.

 

"Yang utama adalah sekolah. Mereka bukan pekerja di rumah saya. Mereka adalah anak-anak yang sedang saya bantu agar memiliki masa depan," katanya.

 

Program sosial yang dijalaninya bukanlah kegiatan sesaat.

 

Selama lebih dari dua dekade, diperkirakan lebih dari 25 hingga 30 anak telah berhasil dibantu hingga mandiri. Bahkan jika dihitung sejak awal dirinya menjadi aparatur sipil negara, jumlahnya mencapai sekitar 60 orang.

 

Banyak di antara mereka kini telah bekerja di sektor pariwisata, memiliki keluarga sendiri, bahkan tetap menjalin hubungan baik dengan Cok Agusnawa.

 

"Kalau mereka sudah berhasil, mereka tetap datang berkunjung. Ada yang datang bersama istri, suami, bahkan membawa anak-anak mereka. Itu kebahagiaan yang tidak bisa dinilai dengan uang," ujarnya.

 

Saat ini pun masih ada lima anak yang tinggal dan diasuh di rumahnya.

 

Setiap hari mereka berangkat sekolah atau kuliah, makan bersama, serta menjalani kehidupan seperti keluarga pada umumnya.

 

Di balik semua itu, Cok Agusnawa mengakui peran sang istri sangat besar.

 

Sejak awal, istrinya selalu memberikan dukungan penuh, mulai dari menerima kehadiran anak-anak tersebut hingga memastikan mereka mendapatkan perhatian dan kasih sayang layaknya keluarga sendiri.

 

Menurutnya, apa yang dilakukan selama ini lahir dari pengalaman hidupnya sendiri.

 

Ia mengaku berasal dari keluarga sederhana dan pernah merasakan sulitnya berjuang meniti karier dari bawah hingga akhirnya dipercaya menduduki berbagai jabatan strategis di Pemerintah Kabupaten Gianyar.

 

"Saya pernah menjadi orang kecil. Karena pernah merasakan susah, saya tahu bagaimana rasanya ketika seseorang membutuhkan uluran tangan," tuturnya.

 

Bagi Cok Agusnawa, rezeki memiliki filosofi seperti air yang terus mengalir.

 

Semakin banyak membantu orang lain, semakin banyak pula jalan yang terbuka.

 

Ia meyakini bahwa harta tidak akan berkurang karena berbagi.

 

Sebaliknya, ketulusan akan menghadirkan keberkahan dalam kehidupan.

 

Memasuki masa pensiun, semangat itu tidak pernah surut.

 

Meski sudah tidak lagi menjabat sebagai birokrat, ia memastikan akan tetap melanjutkan pengabdiannya kepada masyarakat selama masih diberikan kesehatan.

 

"Selama saya masih hidup dan masih mampu bernapas, saya ingin terus membantu orang lain. Itulah kebahagiaan hidup saya," katanya.

 

Menurutnya, filosofi hidup yang selalu dipegang sederhana, yakni membangun keharmonisan, kebersamaan, dan budaya saling menolong.

 

Ia berharap semakin banyak orang yang tergerak melakukan kebaikan, sekecil apa pun bentuknya.

 

"Kalau satu orang berbuat baik, orang lain bisa meniru. Kalau semakin banyak yang saling membantu, maka kehidupan masyarakat akan semakin harmonis. Itulah yang saya yakini sejak dulu," ujarnya.

 

Di tengah kontestasi Pilkel Peliatan 2026, kisah kemanusiaan Cokorda Gde Agusnawa menjadi sisi lain yang memperlihatkan bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak selalu dimulai dari sebuah jabatan. Selama lebih dari dua puluh tahun, ia telah membuktikan bahwa kepedulian dapat diwujudkan melalui tindakan nyata, dengan membuka pintu rumah bagi mereka yang membutuhkan, mengubah keterbatasan menjadi harapan, dan menghadirkan masa depan yang lebih baik melalui pendidikan.


Berita Terkini